
ANALISIS
TULISAN PADA STIKER MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN TEORI TIDAK TUTUR
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia yang
diampu oleh
Khusnul
Khotimah, M.Pd
Oleh
Meliana
Dian Sari (1213500135)
Semester
VI D
Program
Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS
PANCASAKTI TEGAL
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter,
konvensional, dinamis dan produktif, yang digunakan sebagai alat komunikasi
dalam interaksi sosial. Sebagai bagian dari kebudayaan , bahasa tidak dapat
dipisahkan dengan masyarakat sebagai penggunanya. Bahasa dapat tumbuh dan
berkembang jika digunakan oleh masyarakat. Sebaliknya, bahasa akan punah jika
tidak digunakan oleh masyarakat.
Secara filsafat dapat dikatakan “ bahasa ada kaarena
manusia berfikir” dan “manusia dapat berfikir karena bahasa ada”. Artinya,
bahasa merupakan hasil dan proses kreatifitas, (berfikir) manusia dapat
menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berfikir.tanpa bahasa manusia tidak
mampu berfikir. Oleh sebab itu sudah sepantasnya jika kajian terdapat bahasa
perlu mempertimbangkan konteks penggunaannya. Salah satu cabang ilmu bahasa
yang mengkaji bahasa dengan pertimbangan konteks adalah bidang pragmatik.
Sebagai cabang dari ilmu bahasa, pragmatik memiliki kajuan yang jelass yaitu
bahasa. Bahasa yang dikaji dalam pragmatik lebih bersifat kongkret dan
fungsional. Salah satu bahasa yang dikaji adalah satuan tindak tutur.
Istilah tindak tutur (speechart) tidak hanya merujuk
pada aktifitas berbicara saja tetapi merujuk pada keseluruhan situasi dalam
proses komunikasi. Situasi dalam proses komunikasi merupakan konteks ujaran
yang meliputi didalam ujaran atau tuturan. Tindak tutur merupakan perilaku
tuturan atau ujuaran yang digunakan oleh pengguna bahasa dalam kegiatan
komunikasi (sudayat 2009: 136). Jadi kesimpulan darinpengertian diatas adalah
tindak tutur merupakan proses komunikasi untuk menginformasikan suatu hal
melalui tuturan atau ujaran dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan.
Suatu masyarakat menggunakan kalimat pada stiker motor yang digunakannya adalah
bertujuan untuk menginformasikan suatu hal kepada pengendara lain dengan
menggunakan dengan menggunakan pada kalimat stiker tersebut penggendara sudah
merupakan melakukan tindak tutur melalui tulisan untuk menginformasikan kepada
orang lain/pengendara lain.
2.
Rumusan masalah
A. Apa
yang mendasari pengguna sepeda motor memilih kalimat tertentu untuk digunakan?
B. Apa
efek sosial yang ditimbulkan dari kalimat yang digunakan pada stiker motor?
C. Bagaimana
dampak pengendara lain ketika membaca tulisan yang terdapat pada motor tersebut
secara psikologi?
3.
Tujuan
A. Untuk
mengetahui apa yang mendasari pengguna sepeda motor dalam memilih kalimat yang
digunakan.
B. Untuk
mengetahui apa efek sosial yang ditimbulkan dari kalimat yang digunakan pada
stiker motor tersebut.
C. Untuk
mengetahui bagaimana dampak pengendara lain ketika membaca tulisan yang
terdapat pada motor tersebut secara psikologi.
4.
Manfaat
Manfaat
dari penulisan ini adalah sebuah kalimat yang terdapat pada stiker yang ada
pada kendaraan yang digunakan oleh sebagian besar masyaarakat terutama pada
kalangan remaja, hal ini adalah bertujuan untuk menyampaikan sebuah pesan kepda
pengguna kendaraan yang lainnya (lawan tutur).
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian
Pragmatik
Nandar
(2009:2-3) pragmatik merupakan cabang linguistikyang mempelajari bahasa yang
digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Morris, cristal, Hartman
dan storle dalam Nandar 2009:2-3 menjelaskan bahwa pragmakmatik dan sintaksis
merupakan cabang dari semiotika yaitu ilmu tentang tanda. Semiotika dibagi
menjadi 3 cabang kajian pertama sintaksis, cabang semiotika yang mengjkaji
hubungan formal antar tanda-tanda, kedua semantik cabang semiotika yang
mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacuhnya dan ketiga pragmatik yaitu
cabang semiotika yang menkaji hubungan tanda dengan penggunaan bahasa.
Usaha untuk menjelaskan perbedaan kajian makna dari sudut
pandang semantik dan praagmatik telah diajuhkan oleh beberapa ahli bahasa.
Leech dalam Nandar 2009:2-3 misalnaya disamping mengenai melauakan berbagai
tipe makna yaitu makna konseptual, makna konotatif, makna statistika juga
memperkenalkan dua tipe makna lain yang berbeda dengan tujuh tipe makna yang
disebut terdahulu. Dua tipe makna tersebut adalah itendetmeaning makna yang
diinginkan oleh penutur yaitu yang dimaksud yang ada dalam pemikiran penutur
pada waktu menyampaikan gagasannya kepada lawan tuturnya dalam suatu kesempatan
berkomunikasi dan interpretetmeaning makna yang diinterpretasikan oleh lawan
tutur yang ada dalam pikiran lawan tutrnya paa waktu mengelolah dan membuat
interpretasi informasi yang disampaikan kepadanya dalam suatu proses
komunikasi.
Hermaji (2015:23) pragmatik sebagai cabang linguistik yang
mengkaji makna bahasa dalam kaitanya dengan konteks sangat berkaitan dengan
bidang ilmu bahasa yang lain seperti semantik, sosiolingiustik, gramatikal,
morfologi, dan sintaksis, statistika, dan wacana. Hubungan antara pragmatik
dengan ilmu bahasa yang lain bersifat komplementer atau saling melengkapi.
Permasalahan yang tidak dapat diselesaikan melaui kajian linguistik formal
dapat diselesaikan dengan kajian pragmatik. Bidang kajian pragmatik sangatlah
luas yang mencangkup implikatur percakapan, tindak tutur, daya pragmatik,
tindak lokusi, perlokusi, praduga pragmatik, implikasi pragmatik,
prinsip-prinsip percakapan, kesantunan berbahasa, parameter pragmatik, dan
daetlis.
2. Tindak
Tutur
Cumming
(2007:8), Agustin lah yang pertama mengungkapkan gagasan bahasa dapat digunakan
untuk mengungkapkan tindakan melalui perbedaan antara ujaran konstatif dan
ujaran performatif. Ujaran konstatif mendiskripsikan atau melaporkan
peristiwa-pwristiwa ujaran dan keadaan-keadaan didunia. Dengan demikian ujaran
konstatif dapat dikatakan benar atau salah namun demikian ujaran-ujaran
performatif :
a. Tindak
“mendreskripsikan” atau “melaporkan” atau “ menyatakan” apapun tindak ”benar”
atau “salah” dan
b. Pengujaran
kalimat merupakan bagian dari melakukan tindakan atau hanya sebagai tindak
untuk mengatakan sesuatu.
Nandar
(2009:11), tindak tutur berawal dari ceramah yang disampaikan oleh filsuf
berkebangsaan inggris jons L. Austin pada tahun 1995 di universitas Harvard
yang keudian diterbitkan pada tahun 1962 dengan judul “how to do think white
word”. Menurut agustin dalam Nandar 2009:11 agar dapat terlaksana ada tiga
syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan permormatif seperti disebut diatas.
Syarat-syarat diperlukan dan harus dipenuhi agar suatu tindakan dapat berlaku
disebut dengan velisitconditiont. Setiap tuturan mengandung tindakan, Searle
dalam Nandar (2009:11), juga membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan
yang berbeda yaitu tindakan lokusioner, tindakan ilokusioner, dan tindak
perlokusioner. Tindakan-tindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma
penggunaan bahasa salam situasi percakapan antara dua pihak yang dimaksud
tindakan lokusioner adalah tindak tutur yang semata-mata menyakan sesuatu
biasannya dipanadang kurang penting dalam kajian tindak tutur, berbeda dengan
ilokusioner, tindak ilokusioner adalah apa yang diinginkan oleh penuturnya pada
waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji,
meminta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, dan sebagainya. Tindakan
ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan
pemahaman tindak tutur. Jenis tindak tutur yang lainnya dalah tindak tutur
perlokusioner yaitu tindakan untuk mempengaruhi lawan tutur seperti melakukan
intimidasi, membujuk, dan lain-lain.
Nandar (2009:17) bahwa tindak tutur dapat berbentuk langsung
maupun tidak langsung, dan literal maupun tidak literal. Tindak tutur langsung
dapat ditengarahi dari wujud formal sintaksisnya, sedangkan tindak tutur tidak
langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari
tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya.
Berdasarkan jenis tindak tutur yang dapat dicermati dari sudet pandang langsung
atau tidak langsung serta literal atau tidak literal tersebut. Paneer dalam
Nandar (2009:17) menyatakan bahwa keduanya dapat berinteraksi sehubungan dengan
interaksi ini, tindak tutur dapat dilihat dari sudut pandang langsung atau
tidak langsung dan juga dari sudut pandang literal dan tidak literal.
Hermaji (2012:43-45) fungsi tindak tutur dapat dilihat berdasarkan
dua hal yaitu fungsi bahasa dan jenis tindak tutur. Jackkopson dalam Hermaji
(2015:43) membedakan fungsi bahasa atas 6 macam yaitu
1. Fungsi
konotatif adalah fungsi bahasa yang ditujukan pada mitra tutur (lawan tutut)
agar melakukan tindakan seperti yang diujarkan (vokaliv dan direktif)
2. Fungsi
emotif adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyampaikan perasaan atau
emosi penutur.
3. Fungsi
penyapaian pesan adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyapaikan pesan
misalnya tindak tutur menyatakan atau menginformasikan suatu “kesan penutur”
4. Fungsi
kontak adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk memulai, mempertahankan, atau
mengakhiri pembicaraan.
5. Fungsi
konteks adalah fungsi bahasa yang tertuju pada objek topik atau pokok
pembicaraan.
6. Fungsi
kode adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyatakan untuk menyatakan
isyarat atau simbol-simbol tertentu dalam masyarak.
Halliday dalam hermaji
(2015:45) membedakan funsi bahasa atas tiga macam yaitu
1. Fungsi
tekstual yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai alat untuk
mengontuksi atau menyusun sebuah teks. Fungsi tersebut mengacu pada penggunaan
bahasa secara tertulis sebagaimana digunakan dalam teks.
2. Fungsi
interpersonal yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai
pengungkapan dan pengaruh pada setiap dan perilaku penutur. Fungsi tersebut
mengarah pada penggunaan bahada dalam interaksi sosial. Bahasa digunakan untuk
bekerja sama dan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain
(masyarakat). Fungsu ini mencangkup penggunaan bahasa secara lisan dan tulis.
3. Fungsi
ideasional yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai alat atau
sarana untuk menyampaikan dan menginterpretasikan pengalamannya tentang dunia.
Searle dalam Hermaji
(2015:33) membedakan tindak tututr atas lima macam yaitu
1. Tindak
tutur representatif (asertif) adalah tindak tutur yang penuturnya pada
kebenaran atas apa yang diceritakannya. Tindak tutur merupakan represian
kebenaran informasi.
2. Tindak
tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud
agar mitra tutur atau lawan tutur (penutur) melakukan tindakan seperti yang
dituturkan.
3. Tindak
tutur evaluatif adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud untuk menilai
(mengevaluasi) tentang hal-hal yang disebutkan didalam tuturan (ujaran).
Sudaryat dalam Hermaji
2015:36 menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif (evaluatif) merupakan tindak
tutur yang berfungsi untuk menyatakan sikap psikologis penutur terhadap suatu
keadaan atau benda.
4. Tindak
tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk menciptakan
hal atau sesuatu (status, keadaan yang baik).
BAB III
PEMBAHASAN
Percakapan
adalah satuan interaksi bahsa antar dua pembicara atau lebih, maka pengkajian
pragmatik mengenai percakapan tidak hanya brorientasi pada satu pelaku. Semua
pelaku percakapan tidak hanya dapat dilakukan dengan petemuan langsung tatap
muka, karena percakapan dapat dilakukan melalui tulisan, seperti stiker motor
yang bisa ditempel diberbagai kendaraan. Maka percakapan tulisan dapat dikatakan
sebagai bentuk yang sah jika jelas penutur dan mitra tuturnya. Selain itu
setiap tuturannya mengandung sebuah tindakan dan tindakan tersebutpun
tergantung pada mitra tutur dalam menerimanya. Tulisan stiker pada motor meski
penggunaannya bukanlah penulis sesungguhnya tetapi dapat dikatakan bahwa
pengguna motorlah yang menjadi penutur. Karena secara tidak langsung tulisan
dalam stiker mewakili penggunanya dalam penutur dengan mitra tutur yang adalah
pembecanya. Dengan demikian dalam kasus inipun ikut memperhatikan sejauh mana
pembaca memahami tuturan yang sedang dituliskan dalam stiker motor tersebut.
Adapun tulisan pada stiker motor dibawah ini
1. WARNING!
Hari gini nggak ada gigi, udah kaya engkong gue.
Tulisan tuturan pada
stiker ini termasuk dalam jenis tuturan evaluatif, karena makna didalamnya
mengandung penilaian atau labelisasi terhadap suatu objek. Penutur yang
sebenarnya ingin mengajak pembaca yang sebagaimana mitra tutur untuk
menggunakan kendaraan bermotor yang ber”gigi” dalam mesin justru membandingkanya
dengan seseorang yang sudah tua dan notabene tidak memiliki gigi dalam arti
yang sesungguhnya. Tindak tutur ini juga masuk dakam tindak tutur ilokusi
karena sama halnya dengan tuturan sebelunya mitra tutur membaca tulisan ini
secara berulang ulang kali maka akan mendorong mereka untuktidak memakai motor
metik dengan alasan tidak ingin disamakan dengan orang tua atau dengan sebutan
“engkong”
2. CAUTION!
Open nggak ngoper yang penting pakai HELM sob (pengguna metik)
Tuturan pada stiker ini
termasuk dalam jenis tuturan deklaratif karena didalamnya pengguna stiker yang
berlaku sebagai penutur sedang menginformasikan sebuah berita kepada pembaca
selaku mitra tutur untuk tidak mempermasalahkan masalah jenis kendaraan
bermotor yang sedang digunakan, karena yang lebih penting adalah HELM saat
berkendara. Tuturan stiket tersebut juga termasuk tindak tutur ilokusi, karena
didalannya penutur mencoba untuk memberikan informasi bagi pembacanya yang
menjadi mitra tutur dengan harapan dapat dilakukan oleh mitra tutur, sebab
tuturan dalam stiker tersebut jika dibaca berulang kali dapat mempengaruhi
pikiran pembacanya. Pembaca akan mulai menyadari bahwa bukan kendaraan yang
menjadi topik utamanya melainkan keselamatan saat berkendara yang menjadi
sangat penting.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan
paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilu
linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam
situasi tertentu. Sebagai cabang linguistik pragmatik juga mengkaji makna
bahasa kaitanya dengan bidang ilmu bahasa lain, seperti semanti,
sosiolinguistik, gramatikal (morfologi dansintaksis) statistika, dan
wacana.bidang kajian pragmatik sangatlah luas yang mencakup implikatur
percakapan praduga pragmatik, implikasi pragmatik, prinsip-prinsip percakapan,
kesantunan berbahasa, parameter pragmatik, tindak tutur, daya pragmatik, tindal
ilokusi,perlokusi dan deaksi. Pragmatik mmiliki lima jenis tuturan, aserti,
direktif, evaluatif (ekspresif), komisif dan deklarasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hermaji, Bowo. 2015.
Teori Pragmatik. Semarang. Puitika publishing.
Cumming, Louis. 2007. Yogyakarta :
Pustaka Belajar.
Nandar. 2009. Pragmatik dan
Penelitian Pragmatik. Yogyakarta : Graha Ilmu.
banyak kalimat yg penulisannya salah ataupun kurang lengkap
BalasHapusterima kasih sudah membaca
BalasHapus