Rabu, 08 Juni 2016



Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRsgxC7sVHaZTDm0WVQSGKNSxVMPt7zjULbLwwwtCbjrbueIsWxJA
ANALISIS TULISAN PADA STIKER MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN TEORI TIDAK TUTUR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Bahasa Indonesia yang diampu oleh
Khusnul Khotimah, M.Pd



Oleh
Meliana Dian Sari       (1213500135)
Semester VI D



Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS PANCASAKTI TEGAL
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter, konvensional, dinamis dan produktif, yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial. Sebagai bagian dari kebudayaan , bahasa tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat sebagai penggunanya. Bahasa dapat tumbuh dan berkembang jika digunakan oleh masyarakat. Sebaliknya, bahasa akan punah jika tidak digunakan oleh masyarakat.
Secara filsafat dapat dikatakan “ bahasa ada kaarena manusia berfikir” dan “manusia dapat berfikir karena bahasa ada”. Artinya, bahasa merupakan hasil dan proses kreatifitas, (berfikir) manusia dapat menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berfikir.tanpa bahasa manusia tidak mampu berfikir. Oleh sebab itu sudah sepantasnya jika kajian terdapat bahasa perlu mempertimbangkan konteks penggunaannya. Salah satu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dengan pertimbangan konteks adalah bidang pragmatik. Sebagai cabang dari ilmu bahasa, pragmatik memiliki kajuan yang jelass yaitu bahasa. Bahasa yang dikaji dalam pragmatik lebih bersifat kongkret dan fungsional. Salah satu bahasa yang dikaji adalah satuan tindak tutur.
Istilah tindak tutur (speechart) tidak hanya merujuk pada aktifitas berbicara saja tetapi merujuk pada keseluruhan situasi dalam proses komunikasi. Situasi dalam proses komunikasi merupakan konteks ujaran yang meliputi didalam ujaran atau tuturan. Tindak tutur merupakan perilaku tuturan atau ujuaran yang digunakan oleh pengguna bahasa dalam kegiatan komunikasi (sudayat 2009: 136). Jadi kesimpulan darinpengertian diatas adalah tindak tutur merupakan proses komunikasi untuk menginformasikan suatu hal melalui tuturan atau ujaran dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan. Suatu masyarakat menggunakan kalimat pada stiker motor yang digunakannya adalah bertujuan untuk menginformasikan suatu hal kepada pengendara lain dengan menggunakan dengan menggunakan pada kalimat stiker tersebut penggendara sudah merupakan melakukan tindak tutur melalui tulisan untuk menginformasikan kepada orang lain/pengendara lain.
2.      Rumusan masalah
A.    Apa yang mendasari pengguna sepeda motor memilih kalimat tertentu untuk digunakan?
B.     Apa efek sosial yang ditimbulkan dari kalimat yang digunakan pada stiker motor?
C.     Bagaimana dampak pengendara lain ketika membaca tulisan yang terdapat pada motor tersebut secara psikologi?
3.      Tujuan
A.    Untuk mengetahui apa yang mendasari pengguna sepeda motor dalam memilih kalimat yang digunakan.
B.     Untuk mengetahui apa efek sosial yang ditimbulkan dari kalimat yang digunakan pada stiker motor tersebut.
C.     Untuk mengetahui bagaimana dampak pengendara lain ketika membaca tulisan yang terdapat pada motor tersebut secara psikologi.
4.      Manfaat
Manfaat dari penulisan ini adalah sebuah kalimat yang terdapat pada stiker yang ada pada kendaraan yang digunakan oleh sebagian besar masyaarakat terutama pada kalangan remaja, hal ini adalah bertujuan untuk menyampaikan sebuah pesan kepda pengguna kendaraan yang lainnya (lawan tutur).


















BAB II
LANDASAN TEORI
1.      Pengertian Pragmatik
Nandar (2009:2-3) pragmatik merupakan cabang linguistikyang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Morris, cristal, Hartman dan storle dalam Nandar 2009:2-3 menjelaskan bahwa pragmakmatik dan sintaksis merupakan cabang dari semiotika yaitu ilmu tentang tanda. Semiotika dibagi menjadi 3 cabang kajian pertama sintaksis, cabang semiotika yang mengjkaji hubungan formal antar tanda-tanda, kedua semantik cabang semiotika yang mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacuhnya dan ketiga pragmatik yaitu cabang semiotika yang menkaji hubungan tanda dengan penggunaan bahasa.
      Usaha untuk menjelaskan perbedaan kajian makna dari sudut pandang semantik dan praagmatik telah diajuhkan oleh beberapa ahli bahasa. Leech dalam Nandar 2009:2-3 misalnaya disamping mengenai melauakan berbagai tipe makna yaitu makna konseptual, makna konotatif, makna statistika juga memperkenalkan dua tipe makna lain yang berbeda dengan tujuh tipe makna yang disebut terdahulu. Dua tipe makna tersebut adalah itendetmeaning makna yang diinginkan oleh penutur yaitu yang dimaksud yang ada dalam pemikiran penutur pada waktu menyampaikan gagasannya kepada lawan tuturnya dalam suatu kesempatan berkomunikasi dan interpretetmeaning makna yang diinterpretasikan oleh lawan tutur yang ada dalam pikiran lawan tutrnya paa waktu mengelolah dan membuat interpretasi informasi yang disampaikan kepadanya dalam suatu proses komunikasi.
      Hermaji (2015:23) pragmatik sebagai cabang linguistik yang mengkaji makna bahasa dalam kaitanya dengan konteks sangat berkaitan dengan bidang ilmu bahasa yang lain seperti semantik, sosiolingiustik, gramatikal, morfologi, dan sintaksis, statistika, dan wacana. Hubungan antara pragmatik dengan ilmu bahasa yang lain bersifat komplementer atau saling melengkapi. Permasalahan yang tidak dapat diselesaikan melaui kajian linguistik formal dapat diselesaikan dengan kajian pragmatik. Bidang kajian pragmatik sangatlah luas yang mencangkup implikatur percakapan, tindak tutur, daya pragmatik, tindak lokusi, perlokusi, praduga pragmatik, implikasi pragmatik, prinsip-prinsip percakapan, kesantunan berbahasa, parameter pragmatik, dan daetlis.
2.      Tindak Tutur
Cumming (2007:8), Agustin lah yang pertama mengungkapkan gagasan bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan tindakan melalui perbedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif. Ujaran konstatif mendiskripsikan atau melaporkan peristiwa-pwristiwa ujaran dan keadaan-keadaan didunia. Dengan demikian ujaran konstatif dapat dikatakan benar atau salah namun demikian ujaran-ujaran performatif :
a.       Tindak “mendreskripsikan” atau “melaporkan” atau “ menyatakan” apapun tindak ”benar” atau “salah” dan
b.      Pengujaran kalimat merupakan bagian dari melakukan tindakan atau hanya sebagai tindak untuk mengatakan sesuatu.
Nandar (2009:11), tindak tutur berawal dari ceramah yang disampaikan oleh filsuf berkebangsaan inggris jons L. Austin pada tahun 1995 di universitas Harvard yang keudian diterbitkan pada tahun 1962 dengan judul “how to do think white word”. Menurut agustin dalam Nandar 2009:11 agar dapat terlaksana ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan permormatif seperti disebut diatas. Syarat-syarat diperlukan dan harus dipenuhi agar suatu tindakan dapat berlaku disebut dengan velisitconditiont. Setiap tuturan mengandung tindakan, Searle dalam Nandar (2009:11), juga membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan yang berbeda yaitu tindakan lokusioner, tindakan ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Tindakan-tindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma penggunaan bahasa salam situasi percakapan antara dua pihak yang dimaksud tindakan lokusioner adalah tindak tutur yang semata-mata menyakan sesuatu biasannya dipanadang kurang penting dalam kajian tindak tutur, berbeda dengan ilokusioner, tindak ilokusioner adalah apa yang diinginkan oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, meminta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, dan sebagainya. Tindakan ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. Jenis tindak tutur yang lainnya dalah tindak tutur perlokusioner yaitu tindakan untuk mempengaruhi lawan tutur seperti melakukan intimidasi, membujuk, dan lain-lain.
      Nandar (2009:17) bahwa tindak tutur dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung, dan literal maupun tidak literal. Tindak tutur langsung dapat ditengarahi dari wujud formal sintaksisnya, sedangkan tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya. Berdasarkan jenis tindak tutur yang dapat dicermati dari sudet pandang langsung atau tidak langsung serta literal atau tidak literal tersebut. Paneer dalam Nandar (2009:17) menyatakan bahwa keduanya dapat berinteraksi sehubungan dengan interaksi ini, tindak tutur dapat dilihat dari sudut pandang langsung atau tidak langsung dan juga dari sudut pandang literal dan tidak literal.
      Hermaji (2012:43-45) fungsi tindak tutur dapat dilihat berdasarkan dua hal yaitu fungsi bahasa dan jenis tindak tutur. Jackkopson dalam Hermaji (2015:43) membedakan fungsi bahasa atas 6 macam yaitu
1.      Fungsi konotatif adalah fungsi bahasa yang ditujukan pada mitra tutur (lawan tutut) agar melakukan tindakan seperti yang diujarkan (vokaliv dan direktif)
2.      Fungsi emotif adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyampaikan perasaan atau emosi penutur.
3.      Fungsi penyapaian pesan adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyapaikan pesan misalnya tindak tutur menyatakan atau menginformasikan suatu “kesan penutur”
4.      Fungsi kontak adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk memulai, mempertahankan, atau mengakhiri pembicaraan.
5.      Fungsi konteks adalah fungsi bahasa yang tertuju pada objek topik atau pokok pembicaraan.
6.      Fungsi kode adalah fungsi bahasa yang ditujukan untuk menyatakan untuk menyatakan isyarat atau simbol-simbol tertentu dalam masyarak.
Halliday dalam hermaji (2015:45) membedakan funsi bahasa atas tiga macam yaitu
1.      Fungsi tekstual yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai alat untuk mengontuksi atau menyusun sebuah teks. Fungsi tersebut mengacu pada penggunaan bahasa secara tertulis sebagaimana digunakan dalam teks.
2.      Fungsi interpersonal yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai pengungkapan dan pengaruh pada setiap dan perilaku penutur. Fungsi tersebut mengarah pada penggunaan bahada dalam interaksi sosial. Bahasa digunakan untuk bekerja sama dan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain (masyarakat). Fungsu ini mencangkup penggunaan bahasa secara lisan dan tulis.
3.      Fungsi ideasional yaitu fungsi yang merujuk pada penggunaan bahasa sebagai alat atau sarana untuk menyampaikan dan menginterpretasikan pengalamannya tentang dunia.
Searle dalam Hermaji (2015:33) membedakan tindak tututr atas lima macam yaitu
1.      Tindak tutur representatif (asertif) adalah tindak tutur yang penuturnya pada kebenaran atas apa yang diceritakannya. Tindak tutur merupakan represian kebenaran informasi.
2.      Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar mitra tutur atau lawan tutur (penutur) melakukan tindakan seperti yang dituturkan.
3.      Tindak tutur evaluatif adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud untuk menilai (mengevaluasi) tentang hal-hal yang disebutkan didalam tuturan (ujaran).
Sudaryat dalam Hermaji 2015:36 menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif (evaluatif) merupakan tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan atau benda.
4.      Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk menciptakan hal atau sesuatu (status, keadaan yang baik).




BAB III
PEMBAHASAN
Percakapan adalah satuan interaksi bahsa antar dua pembicara atau lebih, maka pengkajian pragmatik mengenai percakapan tidak hanya brorientasi pada satu pelaku. Semua pelaku percakapan tidak hanya dapat dilakukan dengan petemuan langsung tatap muka, karena percakapan dapat dilakukan melalui tulisan, seperti stiker motor yang bisa ditempel diberbagai kendaraan. Maka percakapan tulisan dapat dikatakan sebagai bentuk yang sah jika jelas penutur dan mitra tuturnya. Selain itu setiap tuturannya mengandung sebuah tindakan dan tindakan tersebutpun tergantung pada mitra tutur dalam menerimanya. Tulisan stiker pada motor meski penggunaannya bukanlah penulis sesungguhnya tetapi dapat dikatakan bahwa pengguna motorlah yang menjadi penutur. Karena secara tidak langsung tulisan dalam stiker mewakili penggunanya dalam penutur dengan mitra tutur yang adalah pembecanya. Dengan demikian dalam kasus inipun ikut memperhatikan sejauh mana pembaca memahami tuturan yang sedang dituliskan dalam stiker motor tersebut. Adapun tulisan pada stiker motor dibawah ini
1.      WARNING! Hari gini nggak ada gigi, udah kaya engkong gue.
Tulisan tuturan pada stiker ini termasuk dalam jenis tuturan evaluatif, karena makna didalamnya mengandung penilaian atau labelisasi terhadap suatu objek. Penutur yang sebenarnya ingin mengajak pembaca yang sebagaimana mitra tutur untuk menggunakan kendaraan bermotor yang ber”gigi” dalam mesin justru membandingkanya dengan seseorang yang sudah tua dan notabene tidak memiliki gigi dalam arti yang sesungguhnya. Tindak tutur ini juga masuk dakam tindak tutur ilokusi karena sama halnya dengan tuturan sebelunya mitra tutur membaca tulisan ini secara berulang ulang kali maka akan mendorong mereka untuktidak memakai motor metik dengan alasan tidak ingin disamakan dengan orang tua atau dengan sebutan “engkong”
2.      CAUTION! Open nggak ngoper yang penting pakai HELM sob (pengguna metik)
Tuturan pada stiker ini termasuk dalam jenis tuturan deklaratif karena didalamnya pengguna stiker yang berlaku sebagai penutur sedang menginformasikan sebuah berita kepada pembaca selaku mitra tutur untuk tidak mempermasalahkan masalah jenis kendaraan bermotor yang sedang digunakan, karena yang lebih penting adalah HELM saat berkendara. Tuturan stiket tersebut juga termasuk tindak tutur ilokusi, karena didalannya penutur mencoba untuk memberikan informasi bagi pembacanya yang menjadi mitra tutur dengan harapan dapat dilakukan oleh mitra tutur, sebab tuturan dalam stiker tersebut jika dibaca berulang kali dapat mempengaruhi pikiran pembacanya. Pembaca akan mulai menyadari bahwa bukan kendaraan yang menjadi topik utamanya melainkan keselamatan saat berkendara yang menjadi sangat penting.















BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilu linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Sebagai cabang linguistik pragmatik juga mengkaji makna bahasa kaitanya dengan bidang ilmu bahasa lain, seperti semanti, sosiolinguistik, gramatikal (morfologi dansintaksis) statistika, dan wacana.bidang kajian pragmatik sangatlah luas yang mencakup implikatur percakapan praduga pragmatik, implikasi pragmatik, prinsip-prinsip percakapan, kesantunan berbahasa, parameter pragmatik, tindak tutur, daya pragmatik, tindal ilokusi,perlokusi dan deaksi. Pragmatik mmiliki lima jenis tuturan, aserti, direktif, evaluatif (ekspresif), komisif dan deklarasi.


















DAFTAR PUSTAKA
Hermaji, Bowo. 2015. Teori Pragmatik. Semarang. Puitika publishing.
Cumming, Louis. 2007. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Nandar. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta : Graha Ilmu.

2 komentar: